Minggu, 02 Desember 2012

Analisis Film dan Novel Perahu Kertas


Analisis Film dan Novel Perahu Kertas
(Suatu Tinjaun Struktural Robert Stanton)
Oleh: Muhammad Alfian Tuflih

Adapun teori struktural yang digunakan untuk menganalisis adalah teori struktural Robert Stanton. Stanton membagi unsur intrinsik fiksi menjadi dua bagian, yaitu: fakta cerita dan sarana cerita. Ia membagi unsur fakta cerita menjadi empat, yaitu alur, tokoh, latar, dan tema. Sedangkan sarana cerita terdiri dari judul, sudut pandang, gaya bahasa dan nada, simbolisme, dan ironi.

Fakta Cerita
Karakter, alur, dan latar merupakan fakta-fakta cerita. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Jika dirangkum menjadi satu, semua elemen ini dinamakan „struktur faktual atau „tingkatan faktual cerita. Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita. Struktur faktual adalah cerita yang disorot dari satu sudut pandang (Stanton, 2007:22). Unsur-unsur yang berkaitan dengan fakta cerita adalah sebagia berikut:

1.      Alur
Secara umum, alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya (Stanton, 2007:26).
Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur alur memiliki hukum-hukum sendir; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinan dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton, 2007:28).
Dua elemen dasar yang membangun alur adalah konflik dan klimaks. Konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan sifat-sifat dan kekuatan-kekuatan tertentu. (Stanton, 2007:32).
Menurut Soediro Satoto (1996: 28-29) sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari yang progresif ke regresif. Berbeda dengan teknik tarik balik (backtracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju atau progresif.

Dalam film “Perahu Kertas” karya Dewi Lestari, alur yang digunakan adalah alur maju. Fil yang disutradarai oleh Hanung Barmantyo ini alurnya terkesan bermain “aman”.  Dimulai dari perkenalan, konflik awal, puncak konflik, klimaks, dan penyelesaian. Perkenalan dimulai ketika keempat tokoh dipertemukan dalam suatu kejadian saat eko, nuni, dan kugy menjemput keenan di stasiun. Kemudian terjadi konflik awal antara tokoh Kugy dan Keenan karena masalah cinta. Keenan jatuh cinta pada Kugy yang ternyata telah mempenyai kekasih bernama Joshua (Ojos). Begitu juga dengan Kugy yang kecewa saat mengetahui bahwa Noni akan menjodohkan Keenan dengan Wanda, yang merupakan anak seorang pemilik perusahaan lukisan terbesar di Indonesia. Mereka pun saling menjaga jarak dan perasaan.
Puncak konflik terjadi saat mereka sama-sama menjauh untuk menjaga perasaan masing-masing tokoh. Akhirnya, merekapun menemukan pasangan baru. Kugy dipertemukan dengan Remigius yang merupakan atasannya di perusahaan Advocado. Sedangkan keenan yang memutuskan berhenti kuliah karena ingin fokus melukis, bertemu dengan Luhde. Keenan pun merajut cinta dengan gadis Bali yang menjadi motivator barunya. Kugy dan Keenan yang saling mencitai harus merelakan perasaanya dan mencoba realistis demi kebaikan mereka bersama. Walaupun pada dasarnya, mereka berdua masih saling mencintai dan menutupi perasaannya masing-masing.
Muatan cerita yang begitu padat membuat film ini memiliki durasi yang lumayan lama. Sehingga, produser memutuskan untuk membagi film ini dalam dua bagian. Bagian pertama yang telah ditayangkan berhenti sampai puncak konfliknya. Hal ini membuat penonton penasaran dan menanti-nanti kelanjutan ceritanya dibagian kedua.
Tidak terlalu berbeda dengan filmnya, novel perahu kertas juga memiliki rohnya sendiri. Perbedaan mendasar pada alur hanya pada bagian komposisinya. Pada novel, bagian-bagian alurnya lebih spesifik dan terinci. Kelebihan inilah yang kemudian membuat bagian alur pada novel lebih banyak. Dalam novel konflik yang terjadi lebih bnyak dibanding novel. Dalam novel, intuisi pembaca seolah-olah terombang-ambing dalam permainan konfil dan puncak konflik yang dilakukan penulis. Inilah yang menjadi nilai lebih novel disbanding film. Namun, baik fil atau novel sama-sama menggunakan alur maju.
Alur maju memang sangat cocok digunakan pada drama yang bergenre semiaction ini. Alur maju mempermudah penonton untuk memahami dan menarik amanat  pada drama ini. Secara tekstual, alur maju juga mempermudah pembaca untuk memberikan interpretasi terhadap teks yang dikajinya.

2.      Tokoh atau Karakter
Tokoh atau biasa disebut „karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada berbagai percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Dalam sebagian besar cerita dapat ditemukan satu “tokoh utama yaitu tokoh yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Alasan seorang tokoh untuk bertindak sebagaimana yang dilakukan dinamakan „motivasi (Stanton, 2007:33).
Pada novel dan film “Perahu Kertas”, tokoh utamanya tetap sama. Hanya saja beberapa tokoh pembantu dalam novel perahu kertas, tidak dikutsertakan dalam film. Pertimbangannya, karena tokoh pembantu ini kurang memiliki peran yang mendukung cerita, sehingga tidak dimasukkan. Dalam novel dan filmnya, tokoh utamanya adalah Kugy, Keenan, Luhde, dan Remi. Keempatnya saling mencintai dan sailing menjaga perasaan. Tokoh pembantu lainnya adalah Adri, Lena, Wayan, Noni, Eko, Joshua, Wanda, Karel, dan Ami.
Menariknya, dalam novel dan film ini, setiap tokoh yang saling mencintai memiliki karakter masing-masing yang saling menutupi kekurangan. Kugy, gadis mungil, pengkhayal, dan berantakan mencintai Keenan yang sikapnya sangat dingin dan cuek. Begitu juga dengan Wanda (Wanita yang mencintai Keenan) dan Joshua (Pacar Kugy). Wanda memiliki sikap yang agresif, sedangkan Joshua yang merupakan kekasih Kugy, orangnya teratur. Begitu pula dengan Noni dan Eko yang juga sepsang kekasih. Noni yang karakternya tegas dan perfeksional, sedangkan Eko lebih humoris dan apa adanya.
Karakter berbeda justru muncul dari Remi dan Luhde. Remi yang merupakan direktur sebuha perusahaan Advertishing merupakan replica dari Keenan dengan versi lebih ramah dan hangat pada semua orang. Berbeda dengan Keenan yang sangat dingin dan lebih senang menyendiri. Sedangkan Luhde merupakan gadis yang bisa membangkitkan semangat Keenan. Kemiripan Luhde dan Kugy terletak pada sikap mereka yang senang dengan sastra. Hal inilah yang membuat Keenan jatuh cinta pada Luhde. Keenan merasakan roh Kugy dalam diri Luhde. Perbedaannya, kalau Kugy sangan berantakan dan cerewet, Luhde justru sebaliknya. Ia lebih tenang dan kalem.
Tokoh lainnya adalah Adri dan Lena. Sepasang suami-istri yang memiliki karakter berbeda. Adri bersifat keras dan tegas, sedangkan lena lebih fleksibel dan ramah. Wayan yang merupakan sosok lain diantara Lena dan Adri, karakternya lebih seperti humoris dan berjiwa seni tinggi. Tidak heran, kalau ia menjadi pelukis terkenal dan sangat dikagumi oleh Keenan yang memang mencintai dunia lukis.
Kelebihan pada novel dan film ini terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter tokoh. Penulis mampu menganalogikan antara tokoh pada drama dengan realitas. Dalam drama ini, tokoh-tokoh yang ada mewakili realitas orang-orang yang ada pada masa modern ini. Penulis juga sangat teliti dalam membuat karakter sebuah tokoh. Semuanya teah diperhitungkan. Tokoh-tokoh berdasarkan karakternya semua lengkap dalam drama ini.
Hanya saja, sedikit perbedaan antara novel dan film, hanya pada bagian penguatan karakter tokohnya. Dalam novel, karakter tokoh tergambar dengan sangat rinci, sedangkan pada film, karakter tokoh tidak terlalu lengkap. Hanya penggambaran bagian besarnya saja, sehingga watak lain dari tokoh tidak ada dalam film.

3.      Latar
Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlansung. Latar dapat berwujud dekor. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu. Latar terkadang berpengaruh pada karakter-karakter. Latar juga terkadang menjadi contoh representasi tema. Dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mode emosional yang melingkupi sang karakter. Tone emosional ini disebut dengan istilah „atmosfer. Atmosfer bisa jadi merupakan cermin yang merefleksikan suasana jiwa sang karakter (Stanton, 2007:35-36).
Saat harus mengonfersi sebuah novel ke dalam film, latar merupakan hal yang selalu menjadi masalah terbesar. Pesoalannya adalah bagaimana sulitnya memvisualkan gambaran yang ada pada novel dengan realitasnya. Seperti mencari tempat yang ada dalam benak penulis pada novel dengan tempat yang sebenarnya. Sehingga, pada pembuatan latar, sutradara film dituntut sekreatif mungkin agar dapat memberikan tenpat yang sesuai dengan novelnya.
Pada film Perahu Kertas yang disutradarai Hanung Bramantyo ini, ada beberapa latar yang berbeda dengan novelnya. Contohnya saja pada adegan saat Keenan dan Kugy akan kembali ke Jakarta. Dalam novel, diceritakan bahwa dalam perjalanan itu, keretanya bermasalah sehingga mereka diharuskan untuk turun sejenak. Ketika turun itulah Kugy pergi menelusuri jalan-jalan desa dekat stasiun tempat berhentinya kereta. Ia pun menikmati suadana desa ditemani Keenan yang dengan radar neptunusnya dapat menemukan keberadaan Kugy. Merekapun makan di warung bersama ditemani gerimis hujan yang membasahi tanah yang gersang. Sedangkan pada film, hanya digambarkan suasana dir rel kereta. Saat itu Kugy dengan kameranya diam-diam memotret Keenan yang sedang berjalan di rel kereta.

4.      Tema
Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan „makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat (Stanton, 2007:36).
Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema (Stanton, 2007:37).
Tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Interpretasi yang baik hendaknya selalu menpertimbangkan berbagai detail menonjol dalam sebuah cerita. Kriteria ini adalah yang paling penting.
b. Interpretasi yang baik hendaknya tidak terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi.
c. Interpretasi yang baik hendaknya tidak sepenuhnya tidak bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya secara implisit).
d. Terakhir, interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan secara jelas oleh cerita bersangkutan (Stanton, 2007:44-45).
Pada aspek tema, sepertinya tidak ada hal yang perlu di kritisi. Novel ini sudah sesuai dengan tema yang telah di konstruksi oleh penulisnya. Secara keseluruhan, drama ini bertemakan percintaan dan persahabatan.

Sarana Cerita
Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi (Stanton, 2007:46 47).

1.      Judul
Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar, dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Sering kali judul dari karya sastra mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam cerita. Judul juga dapat berisi sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang atau merupakan kesimpulan terhadap kedaan yang sebenarnya dalam cerita (Stanton, 1965:25-26)
Judul yang digunakan dalam film ini sama dengan judul novelnya, “Perahu Kertas”. Judul ini dipilih penulis karena menggambarkan keseluruhan dari cerita. Dalam novel, diceritakan kebiasaan unik yang sering dilakukan tokoh utama (Kugy). Ia selalu menyampaikan keluh-kesahnya di atas kertas, kemudian dibentuk menjadi perahu dan dihanyutkan ke air. Kugy berharap kalau dewa laut Neptunus membaca curahan hatinya itu.
Judul ini juga bermakna filosofis, perahu dan air merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga perasaan dan cinta. Dimanapun Kugy mengalirkan perahunya, pasti airnya akan bermuara di laut. Seperti juga perasaan, pada siapapun kita mencurahkan perasaan kita, semuanya akan kembali pada satu sosok yang Tuhan telah atur. Jadi, biarkan cinta mu mengalir seperi air dan biarkan Tuhan yang menentukan dimana cinta itu akan bermuara.

2.      Sudut Pandang
Stanton dalam bukunya membagi sudut pandang menjadi empat tipe utama. Pertama, pada „orang pertama-utama sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Kedua, pada „orang pertama-sampingan cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan). Ketiga, pada orang ketiga-terbatas pengarang mengacu pada semua karakter dan emosinya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu karakter saja. Keempat, pada orang ketiga-tidak terbatas pengarang mengacu pada setiap karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga. Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau perpikir atau saat tidak ada satu karakter pun hadir.
Pada novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari ini penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga tidak terbatas. Artinya, penulis sepenuhnya mengetahui tentang semua seluk beluk dalam novel ini. Perbedaannya, kalau pada novel sudut pandang yang digunakan merupakan representasi dari imajinasi Dewi Lestari sebagai penulis. Sedangkan pada film, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang dari Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

3.      Gaya dan Tone
Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan penyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya (Stanton, 2007:61).
Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah „tone. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007:63). Tone pada drama ini sangat terlihat pada karater semua tokoh pada novel ini. Semua tokoh memainkan karakternya masing-masing mewakili realitas yang ada. Hal ini membuat keseimbangan pada drama ini.


4.      Simbolisme
Dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Dua, simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Tiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton, 2007:65).
Salah satu bentuk simbol yang khas adalah „momen simbolis. Istilah ini dapat disamaan dengan „momen kunci atau „momen pencerahan (dua istilah ini sering dipakai oleh para kritisi). Momen simbolis, momen kunci, atau momem pencerahan adalah tabula tempat seluruh detail yang terlihat dan hubungan fisis mereka dibebani oleh makna (Stanton, 2007:68).
Ada symbol menarik yang digunakan dalam novel dan film ini. Simbol kedua tangan yang membentuk seperti tanduk rusa. Simbol ini digunakan oleh Kugy dan Keenan seolah-olah mereka menggunakan radar yang diberikan oleh Dewa Neptunus.

5.      Ironi
Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya. Ironi dapat ditemukan dalam hampir semua cerita (terutama yang dikategorikan „bagus). Dalam dunia fiksi, ada dua jenis ironi yang dikenal luas yaitu „ironi dramatis dan „tone ironis (Stanton, 2007:71).
„Ironi dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pasangan elemen-elemen di atas terhubung satu sama lain secara logis (biasanya melalui hubungan kausal atau sebab-akibat) (Stanton, 2007:71). „Tone ironis atau „ironis verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dngan cara berkebalikan (Stanton, 2007:72).
Berbicara mengenai ironi, novel ini tak perlu diragukan lagi. Diantara eleman-eleman lainnya, kekutaan novel dan film ini terletak pada Ironi yang berhasil dimainkan penulisnya dan sutradaranya. Ada banyak ironi pada novel dan film ini yang bisa dinikmati pembaca. Ironi yang terbaik adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk menutupi perasaannya pada orang yang ia cintai demi orang lain.

REFERENSI

Suyoto, Agustinus. 2009. Dasar-dasar Apresiasi Drama. Yogyakarta: SMA Stella Duce
Lestari, L.A. dan Wahab, A. 1999. Menulis Karya Ilmiah. Jogjakarta: Airlangga University Press.
Lestari, Dewi. 2012. Perahu Kertas. Yogyakarta: Bentang.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa .1993. Kamus Besar Bahasa Indoneisa edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Suguhastuti dan Rosi Abi. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Jogjakarta: Pustaka Pelajar
Waluyo, Herman J. 2001. Drama: Teori dan Pengajarannya. Jogjakarta: Graha Hanindita.

3 komentar: