Sabtu, 01 Desember 2012

ANALISIS METAFORA NOVEL “WAJAH SEBUAH VAGINA”


ANALISIS METAFORA
NOVEL “WAJAH SEBUAH VAGINA” KARYA NANING PRANOTOMELALUI PENDEKATAN HERMENEUTIKA RICOEUR

Oleh: Muhammad Alfian Tuflih
Pembuatan karya tulis ini merupakan usaha mengaji  novel melalui pendekatan hermeneutika Ricoeur. Hermeneutika adalah ilmu tentang penginterpretasian (penafsiran) sesuatu secara menyeluruh Eagleton (dalam Manuaba, 2009). Dalam hermeneutika, konsep kedalaman makna memegang peranan penting. Setiap karya sastra memiliki kedalam makna yang berbeda, tergatung bagaimana penilaian pembaca terhadap karya sastra tersebut. Semakin banyak versi tentang makna yang terkandung dalam karya sastra, semakin menarik pula karya sastra tersebut.
       Hermeneutika Ricoeur merupakan pendekatan yang akan digunakan dalam mengaji ataupun menafsirkan novel ini ini. Hermeneutika Ricoeur dipilih karena pendekatannya yang menitikberatkan pada pemahaman makna-makna yang terdapat pada metafora dalam karya sastra. Maksudnya, ia lebih menitikberatkan kajiannya pada makna-makna baru yang terdapat di metafora yang ada pada novel. Hal ini sangat tepat sekali digunakan dalam mengaji novel yang memiliki banyak metafora di dalamnya, sehingga kita dapat dengan “Puas” melakukan sebuah kajian.
      Karya sastra yang akan dikaji adalah metafora pada novel. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993),  metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Metafora yang akan dikaji adalah metafora yang terdapat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” karya Naning Pranoto. Novel ini diangap penuh dengan metafora, sehingga dipilih untuk dikaji menggunakna pendekatan hermeneutika Ricoeur yang memang menitikberatkan kajiannya pada makna (hermeneutika) yang terdapat pada metafora-metafora.
Analisis novel “Wajah Sebuah Vagina” akan dilakukan dengan menafsirkan kalimat perkalimat yang dianggap menggunakan metafora. Hal ini dipilih untuk lebih mengefisienkan pengkajian makna metafora yang terkandung novel “Wajah Sebuah Vagina”.
“Wajah Sebuah Vagina”
Makna yang terkandung pada kalimat yang kemudian dijadikan judul pada novel ini adalah bagaimana kisah atau rupa kehidup perempuan. Kata perempuan dsinini digantikan dengan meatfora vagina. Kata vagina dipilih agar pembaca dapat memahami dengan lebih tentang kehidupan perempuan.
Yang kali ini gemetar karena digerakkan api amarah yang berkobar-kobar”. (Hal. 17)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas adalah bagaimana tingginya rasa kemarahan tokoh (Mira) seseorang yang telah diberikan dikecewakan oleh pasangannya (Mulder). Kemarahannya dibaratkan sebagai api yang memiliki sifat panas, sepanas perasaan Mira pada pasangannya.
 “Asap putih yang seperti cahaya emas putih murni itu membumbung ke udara. (Hal. 18)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas adalah perasaan yang dialami oleh tokoh (Mira). Perasaan indah yang bisa menengkannya dan meredam api amarahnya.
Apalagi, ketika mereka melihat vagina Mira: wajah vagina yang penuh darah kering maupun darah segar, yang terdiri dari darah merah dan darah putih.” (Hal. 25)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas tentang penderitaan seorang perempuan. Kata “vagina” mewakili perempuan. Sementara “darah” menggamabrkan tentang terlukanya perasaan dan jiwa perempuan tersebut. Kepedihan akibat luka batin telah membuat miris perasaan orang yang melihat penderitaan tokoh (Mira).
Oh, nak… berapa laki-laki yang merusak vaginamu?” (Hal. 25)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas semakin mempertegas tentang penderitaan Mira. Pada kalimat ini, kata “vagina” mengalami perubahan makna sesuai dengan keadaan metafora yang digunakan. Pada kalimat ini, metafora “vagina” berarti kehidupan tokoh.
Wilayah kumuh adalah tempat tinggal kami, orang pendatang dari desa untuk mengais nasi di kota besar”.(Hal. 44)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas adalah tentang susahnya kehidupan di dota besar. Susahnya hidup itu digambarkan dengan metafora “mengais nasi”. Kata mengais berarti hanya mengambil sidkit dari sisa-sisa yang ada. Jadi, untuk hidup di kota besar, tokoh (Mira) hanya mendapatkan sedikit dari nikmat kehidupan.
 “Benar, kak. Granny pernah bilang begitu. Vagina itu benda yang suci dan merupakan kehormatan perempuan. Tapi, saya pernah dengar ada laki-laki bicara, vagina itu merupakan sumber kenikmatan hidup yang tiada tandingan. Maka vagina banyak diburu laki-laki. Bukankah banyak laki-laki yang suka membeli vagina untuk dinikmati.” (Hal. 48)
Pada metafora di paragraph ini, kata vagina mengalami dualism makana di kalimat yang berbeda. Pada kalimat pertama, vagina bermakna sebenarnya (konotasi), sementara pada kalimat terakhir, vagina mewakili makna perempuan. Secara hermenutik, pada kalimat terakhir dapat kita interpretasi bahwa vagina itu merupakan kehidupan perempuan yang sangat mudah untuk di dapat. Saking mudahnya, bahkan laki-laki dapat membelinya dan dengan begitu saja merusak kehiudupan perempuan.
 “Shaka lelaki yang luar biasa, maka penisnya juga luar biasa. Lelaki yang luar biasa, perlu vagina lebih dari satu, untuk menampung magma air laki-lakinya yang melipah ruah seperti kekuatan tubuh…” (Hal. 69)
Pada kalimat ini, digunakan metafora “magma” untuk menggambarkan proses keluarnya mani laki-laki. Kata magma digunakan karena fungsi dari kata ini yang sesuai dengan proses keluarnya air seni laki-laki (mani). Secara harfiah, makana dari kalimat ini tentang kesetaraan cinta, laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, ini bisa kita lihat pada kalimat “penis yang luar biasa butuh vagina yang luar biasa pula.”
Adat merupakan jatidiri suatu bangsa”. (Hal.107)
Kalimat ini tidak terlalu mengandung metafora. Hanya kata jatidiri yang bisa ditelaah maknanya. Pada kalimat ini jatidiri merupakan keadaan suatu bangsa. Dan untuk mempertahankan keadaan bangsa tersebut, diperlukan adat isiti adat.
“Sebab aku khwatir, lelaki yang menyiksanya itu seorang pembunuh berdarah dingin yang haus darah dan terus-terus mencari mangsa.” (Hal. 134)
Metafora pembunuh berdarah dingin pada penggalan kalimat di atas merupakan gambaran tentang seseorang yang sangat berbahaya. Orang yang tidak memilikim pemikiran panjang jika melakukan sesuatu. Sehingga, sangat berbahaya jika orang tersebut dibiarkan karena ia begitu nekat dalam bertindak. Mangsa yang dimaksud itu sendiri adalah perempuan (vagina) yang selalu dincar untuk dirusak.
“…langit biru berhias bintang kerlap-kerlip berlatar belakang gedung-gedung pencakar langit dan lampu-lampu kapal yang hilir mudik.” (Hal. 151)
Langit biru merupakan warna langit dan bintang kerlap-kerlip merupakan gamabran tentang sinar bintang yang bergantian redup-nyala yang mengiasi malam. Sementara metafora gedung pencakar langir merupakan makna dari gedung-gedung yang sangat tinggi sehingga seolah-oleh gedung tersebut mencakar langit. Suasana malam yang gelap membuat kapal-kalap tidak Nampak, hanya lampu menyalanya yang terlhat hilir-mudik menerobos malam.
“… semilirnya angin musim semi di waktu malam dan nyanyian ombak yang menggetarkan jiwa…”(Hal. 155)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas adalah tentang keadaan alam pada malam hari di afrika. Cuaca yang yang cerah membuat gerakan ombak seirama sehingga membentuk sebuah nyanyian yang indah. Kata ombak pada kalimat bermakna denotasi. Ombak dilambangkan sebagai benda yang dapat bergerak dan menggentarkan hati.
“Bahkan bentuk kelaminnya yang tegak seperti tombak saat ereksi. Sedangkan kelamian kita? Hanya berupa lobang, lobang yang pasif untuk menerima apa yang masuk kedalamnya.”(Hal. 218)
Makna dari kutipan kalimat pada novel “Wajah Sebuah Vagina” di atas tentang perbandingan antara laki-laki (penisnya) dengan perempuan (vaginanya). Metafora penis yang dilambangakan dengan tombak dapat diinterpretasi sebagai sesuatu yang kuat dan merupakan sifat laki-laki. Sementara vagina perempuan yang hanya berupa lobang pasif memberikan gambaran tentang rapuhnya perempuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar