Rabu, 15 Mei 2013

KRITIK DRAMA “BAPAK” KARYA B. SOELARTO


KRITIK DRAMA “BAPAK” KARYA B. SOELARTO
MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUKTURALISME FIKSIONAL ROBERT STANTON
Oleh: Muhammad Alfian Tuflih

Teori Struktural Robert Stanton
Adapun teori struktural yang digunakan untuk menganalisis adalah teori struktural Robert Stanton. Stanton membagi unsur intrinsik fiksi menjadi dua bagian, yaitu: fakta cerita dan sarana cerita. Ia membagi unsur fakta cerita menjadi empat, yaitu alur, tokoh, latar, dan tema. Sedangkan sarana cerita terdiri dari judul, sudut pandang, gaya bahasa dan nada, simbolisme, dan ironi.

Fakta Cerita
Karakter, alur, dan latar merupakan fakta-fakta cerita. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Jika dirangkum menjadi satu, semua elemen ini dinamakan „struktur faktual atau „tingkatan faktual cerita. Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita. Struktur faktual adalah cerita yang disorot dari satu sudut pandang (Stanton, 2007:22). Unsur-unsur yang berkaitan dengan fakta cerita adalah sebagia berikut:

1.      Alur
Secara umum, alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya (Stanton, 2007:26).
Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur alur memiliki hukum-hukum sendir; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinan dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton, 2007:28).
Dua elemen dasar yang membangun alur adalah konflik dan klimaks. Konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan sifat-sifat dan kekuatan-kekuatan tertentu. (Stanton, 2007:32).
Menurut Soediro Satoto, 1996: 28-29 sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari yang progresif ke regresif. Berbeda dengan teknik tarik balik (backtracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju atau progresif.
Dalam drama “Bapak” karya L. Soelarto ini alur yang digunakan adalah alur maju. Cerita berjalan sesuai dengan langkah-langkhanya. Dumulai dari perkenalan, konflik awal, puncak konflik, klimaks, dan penyelesaian. Alur maju memang sangat cocok digunakan pada drama yang bergenre semiaction ini. Alur maju mempermudah penonton untuk memahami dan menarik amanat  pada drama ini. Secara tekstual, alur maju juga mempermudah pembaca untuk memberikan interpretasi terhadap teks yang dikajinya.
2.      Tokoh atau Karakter
Tokoh atau biasa disebut „karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada berbagai percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Dalam sebagian besar cerita dapat ditemukan satu „tokoh utama yaitu tokoh yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Alasan seorang tokoh untuk bertindak sebagaimana yang dilakukan dinamakan „motivasi (Stanton, 2007:33).
Pada drama “Bapak” karya L. Soelarto ini ada empat tokoh utamanya. Masing-masing adalah Bapak, Sulung, Bungsu, dan Perwira. Tokoh bapak mewakili sosok nasionalis. Ia rela mempertaruhkan jiwa dna raganya demi bangsa yang ia cintai. Sulung menjadi pemeran antagonis dalam drama ini. Ia menjadi tokoh yang berlawanan dengan karakter Bapak yang nasionalis. Sesok selanjutnya adalah Bungsu yang mewakili karakter perempuan Indonesia yang kuat. Ia menjadi “kartini” pada drama ini. Ia mampu menepis kebahagiaan yang ditawarkan abangnya demi menjaga rasa cintanya pada bangsa, orangtua, dan calon suamninya. Tokoh terakhir adalah perwira yang konsisten mebela negaranya. Sosok kuat yang menjadi benteng penjaga kemerdekaan bangsa.
Kelemahan pada drama ini yang mungkin juga menjadi kelebihannya terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter tokoh. Penulis merubah fungsi tokoh. Tokoh tentara yang seharusnya lebih berperan dalam mempertahankan kemerdekaan, justru diambil alih oleh peran sang Bapak. Perwira disini justru hnaya breperan sebagai tokoh pendukung. Disatu sisi, dengan melakukan hal ini, penulis telah merubah paradigm tentang perjuangan itu sendiri. Penulis mencoba merekonstruksi paradigma pembaca tentang tokoh sentral dibalik kemerdekaan yang selama ini hanya berkutat pada TNI saja.

3.      Latar
Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlansung. Latar dapat berwujud dekor. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu. Latar terkadang berpengaruh pada karakter-karakter. Latar juga terkadang menjadi contoh representasi tema. Dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mode emosiaonal yang melingkupi sang karakter. Tone emosional ini disebut dengan istilah „atmosfer. Atmosfer bisa jadi merupakan cermin yang merefleksikan suasana jiwa sang karakter (Stanton, 2007:35-36).
Latar yang digunakan pada drama ini kurang sesuai jika coba menggambarkan keadaan mempertahankan kemerdekaan. Pada drama ini, settingnya kebanyakan dilakukan di dalam rumah. Tidak terlalau banyak interaksi dengan lingkungan yang menggambarkan perang kemerdekaan. Hal ini membuata drama ini kurang menarik namun inti nya masih dapat dipetik. Fokus drama ini memang sebatas doktrin politis yang ditonjolkan, bukan pada settingnya.



4.      Tema
Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan „makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat (Stanton, 2007:36).
Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema (Stanton, 2007:37).
Tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Interpretasi yang baik hendaknya selalu menpertimbangkan berbagai detail menonjol dalam sebuah cerita. Kriteria ini adalah yang paling penting.
b. Interpretasi yang baik hendaknya tidak terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi.
c. Interpretasi yang baik hendaknya tidak sepenuhnya tidak bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya secara implisit).
d. Terakhir, interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan secara jelas oleh cerita bersangkutan (Stanton, 2007:44-45).
Pada aspek tema, sepertinya tidak ada hal yang perlu di kritisi. Drama ini sudah sesuai dengan teman yang telah di konstruksi oleh penulisnya. Secara keseluruhan, drama ini bertemakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sarana Cerita
Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi (Stanton, 2007:46 47).

1.      Judul
Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar, dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Sering kali judul dari karya sastra mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam cerita. Judul juga dapat berisi sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang atau merupakan kesimpulan terhadap kedaan yang sebenarnya dalam cerita (Stanton, 1965:25-26)
Dalam drama “Bapak” karya L. Soelarto ini judul yang digunakan sangat singkat, padat, dan jelas. Namun, dari judul tersebut, perlu interpretasi mendalam untuk mengetahuai makna mengapa kata BAPAK yang dipilih sebagai judul. Kalau membaca keseluruhan drama, seharunya yang menajdi judul itu adalah kemerdekaan (kata kerja) bukan bapak (kata benda). Ketika penulis memilih kata bapak sebagai judulnya, kesan yang muncul bahwa pada drama ini aka nada satu tokoh yang ditonjolkan. Padahal, pemilihan judul ini dipilih karena penulis mencoba mencari kata yang pas untuk mewakili keadaan pemimpin pada masa itu.


2.      Sudut Pandang
Stanton dalam bukunya membagi sudut pandang menjadi empat tipe utama. Pertama, pada „orang pertama-utama sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Kedua, pada „orang pertama-sampingan cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan). Ketiga, pada orang ketiga-terbatas pengarang mengacu pada semua karakter dan emosinya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu karakter saja. Keempat, pada orang ketiga-tidak terbatas pengarang mengacu pada setiap karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga. Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau perpikir atau saat tidak ada satu karakter pun hadir.
Pada drama“Bapak” karya L. Soelarto ini penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Ini terlihat ketika di puncak konflik bapak tidak langsung memberitahukan apa yang terjadi pada putranya di kamar (tentang apa yang dilihatnya). Keunggulan dari sudut pandang ini bisa menjadi daya tarik karena membuat pembaca ataupun penonton penasaran pada  drama.

3.      Gaya dan Tone
Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan penyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya (Stanton, 2007:61).
Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah „tone. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007:63). Tone pada drama ini sangat terlihat pada karate bapak yang juga dijadikan judul drama ini. Kelemahannya, penulis tidak proporsional dalam membagai tone nya. Penulis terkesan hanya memfokuskan dramanya pada tokoh bapak dan sulung. Sedangkan bungsu dan perwira hanya menjadi penambah/pelengkap cerita dengan karakternya. Seharunya, penulis membagi rata emosionalnya pada masing-masing tokoh. Sehingga terjadi keseimbangan pada drama ini dan tidak ada tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap saja.

4.      Simbolisme
Dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Dua, simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Tiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton, 2007:65).
Salah satu bentuk simbol yang khas adalah „momen simbolis. Istilah ini dapat disamaan dengan „momen kunci atau „momen pencerahan (dua istilah ini sering dipakai oleh para kritisi). Momen simbolis, momen kunci, atau momem pencerahan adalah tabula tempat seluruh detail yang terlihat dan hubungan fisis mereka dibebani oleh makna (Stanton, 2007:68).
Pada drama ini, penulis “miskin”  dalam menggunakan simbol. Tercatat hanya satu symbol yang digunakan, yaitu pistol. Hal ini dilakukan penulis, mungkin untuk mengurangi pelencengan interpretasi makna dari symbol yang ada. Hal inilah yang dihindari penulis karena semakin banyak simbol yang digunakan, maka semakin banyak interpretasi yang timbul. Penulis terkesan mecoba mengirign kita pada pemikirannya tanpa mencoba membuat kita berimajinasi dengan simbol-simbol.

5.      Ironi
Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya. Ironi dapat ditemukan dalam hampir semua cerita (terutama yang dikategorikan „bagus). Dalam dunia fiksi, ada dua jenis ironi yang dikenal luas yaitu „ironi dramatis dan „tone ironis (Stanton, 2007:71).
„Ironi dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pasangan elemen-elemen di atas terhubung satu sama lain secara logis (biasanya melalui hubungan kausal atau sebab-akibat) (Stanton, 2007:71). „Tone ironis atau „ironis verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dngan cara berkebalikan (Stanton, 2007:72).
Berbicara mengenai ironi, drama ini tak perlu diragukan lagi. Diantara eleman-eleman lainnya, kekutaan drama ini terletak pada Ironi yang berhasil dimainkan penulisnya. Ada banyak ironi pada drama ini yang bisa dinikmati pembaca. Mulai dari ayah membunuh anak, penduduk bangsa menghianati bangsanya, dan sebagainya. Hal ini menjadi kelebihan dari drama ini.

REFERENSI

Suyoto, Agustinus. 2009. Dasar-dasar Apresiasi Drama. Yogyakarta: SMA Stella Duce
Lestari, L.A. dan Wahab, A. 1999. Menulis Karya Ilmiah. Jogjakarta: Airlangga University Press.
Soelarto, B.. 1985. Lima Drama. Jakart: PT Gunung Agung
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa .1993. Kamus Besar Bahasa Indoneisa edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Suguhastuti dan Rosi Abi. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Jogjakarta: Pustaka Pelajar
Waluyo, Herman J. 2001. Drama: Teori dan Pengajarannya. Jogjakarta: Graha Hanindita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar